The Bitterness was Never the Matcha

 I really like green so much...... (。•́‿•̀。)

Bring me back to when akuu melihat matcha sebagai minuman biasa. 

Mungkin sekarang aku masih menyukai tapi tidak menjadi minuman favorit. Rasa matcha ga berubah kok masih sama seperti pertama kali aku memutuskan untuk membeli minuman matcha. Cara pandang memang membuat semua menjadi berubah. Tapi ketika melihat matcha aku merasa jatuh cinta tapi padahal warna favorit pengganti Lilac. "what is your favorit color?" i ask yess exactly i like lilac but i loved everything warna green (matcha). Bagian anehnya adalah ketika aku liking something too much.

But on wednesday in a cafe i watched it begin again. Aku memutuskan untuk membeli taro flavour dimana dia rasanya begitu manis dan mempunyai khasnya sendiri. I think i love it about thatt dimana dia berwarna cantiknya lilac. Tapi entah sejak kapan, hal yang sederhana itu mulai berubah.

Matcha yang sama, rasa yang sama, tidak pernah benar-benar berubah. Namun aku mulai menyadari bahwa bukan minumannya yang berbeda, aku yang berubah. Cara aku melihatnya, cara aku mengingatnya, cara aku memberi makna pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah meminta untuk dimaknai. Tapi menurutku memang iyaa "mengapa aku menggali atau memaknai lebih dalam terhadap warna favoritku?" Suasana yang tenang, mungkin sedikit sepi, mungkin juga hanya terlalu banyak hal di kepala yang tidak pernah aku ucapkan.

Dan di titik itu aku sadar aku bukan lagi sekadar “menyukai warna”. Sepertinya aku tipe orang yang membeli sesuatu menilai pertama dari packagingnya. Kadang aku ingin mengstopp untuk terlalu merasa. Stopp untuk terlalu memaknai. Stop membuag  hal kecil jadi sesuatu yang berat. Di tengah semua pikiran yang terlalu berisik itu, ada satu hal yang tiba-tiba terasa paling jelas.

Aku tidak ingin membenci siapapun hanya karena minuman dan warna favoritku.
Aku tidak ingin sebuah warna, sebuah rasa, atau sebuah hal kecil menjadi alasan untuk aku menyimpan perasaan yang berat terhadap orang lain atau bahkan terhadap diriku sendiri.
Karena pada akhirnya, matcha tetap hanya minuman.
Lilac tetap hanya warna. Kolaborasi warna favoritku adalah warna matcha pink, matcha dark brown, matcha ivory, lilac pink, merah pink.

Tapi aku tidak perlu mengubah hal-hal itu menjadi alasan untuk menjauh dari kedamaian dalam diriku sendiri.
Dan di titik itu, aku hanya diam.
Tidak lagi mencari makna yang terlalu jauh.
Tidak lagi memaksa semuanya harus dijelaskan
WHATEVERR

*Tulisan ini bukan tentang seseorang. Bukan juga tentang kejadian tertentu yang ingin diceritakan ulang. Tulisan ini murni tentang sudut pandangku yang berubah seiring waktu, tidak ditujukan untuk siapa pun. Jika ada yang merasa kurang nyaman, aku mohon maaf. Be Smart yaa wkwkkwkk (✿◠‿◠) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Cup of Thoughts by Avrilla

2022